Category: Dhamma


Belajar Dhamma ~ Ajahn Chah

I. 108 Perumpamaan Dhamma

Sumber: Samaggiphala

.

II. next…..

Sikap Batin Saat Meditasi

SIKAP BATIN YANG BENAR DALAM MEDITASI VIPASANNA.
===============================================
Oleh : U Tejaniya Sayadaw.

1. Hal terpenting dalam bermeditasi adalah memiliki sikap mental yang benar. Untuk itu :
- Jangan terlalu memfokus,
- Jangan mengendalikan,
- Jangan ingin menghasilkan apa-apa,
- Jangan memaksakan diri.

2. Jangan berusaha menciptakan apa-apa,
Tetapi jangan juga berusaha mengenyahkan sesuatu.
Jangan lalai terhadap apa yang muncul dan lenyap.
Ketahuilah apa yang terjadi.

3. Berusaha memunculkan sesuatu adalah lobha ( keserakahan )
Berusaha mengenyahkan sesuatu adalah dosa ( kebencian )
Tidak mengetahui apa yang muncul dan lenyap adalah moha ( kebodohan batin ).

4. Hanya jika batin tidak memiliki lobha, dosa dan soka ( kegelisahan) barulah akan muncul batin yang mengamati.

5. Seyogianyalah mengecek berulang-kali sikap mental Kita dalam bermeditasi.

6. Yang baik, di amati saja.
Yang buruk, pun di amati saja.

7. Hanya menginginkan yang baik,
tidak menginginkan yang jelek, walaupun secuil saja.
Apakah ini adil? Apakah ini sesuai dengan Dhamma ( ajaran Buddha ) ?

8. Jangan mengharapkan apa-apa,
Jangan menginginkan sesuatu,
Apabila sikap mental demikian hadir dalam batin Kita, maka Kita pun takkan mengalami kesulitan dalam bermeditasi.

9. Mengapa Anda berusaha memfokuskan sedemikian kuatnya?
Tampaknya ada sesuatu : ingin memunculkan sesuatu? Menginginkan sesuatu?  Ingin mengenyahkan sesuatu?

10. Apabila batin Anda menjadi lelah berarti ada sesuatu yang tidak beres dalam meditasi Anda.

11. Anda takkan dapat bermeditasi dengan batin yang tegang.

12. Apabila baik batin maupun jasmani menjadi kelelahan, maka perlu memeriksa kembali batin Kita, apakah sikap mental Kita sudah benar?

13. Meditasi adalah menunggu dan mengamati dengan penuh kewaspadaan (sati ) dan pemahaman jernih ( Sampajannya ), bukan berpikir, bukan merenung, pun bukan menilai.

14. Anda takkan dapat bermeditasi dengan batin yang menginginkan sesuatu atau menghasilkan sesuatu, karena yang didapatkan hanyalah kelelahan.

15. Seyogianyalah bermeditasi dengan batin yang santai dan damai.

16. Baik batin maupun jasmani seyogianya dalam keadaan rileks dan nyaman.

17. Seyogianyalah bermeditasi dengan batin yang bebas dan ringan tidak mengkhawatirkan apa pun.

18. Meditasi adalah menerima apa saja yang muncul, baik maupun buruk, kemudian amati dengan santai.

19. Batin Anda sedang melakukan apa? Sedang berpikir atau sedang sadar – waspada?

20. Batin Anda sedang berada dimana? Di dalam atau di luar?

21. Apakah ” batin yang mengetahui”, “batin yang mengamati”,
sungguh-sungguh mengetahui atau hanya mengetahui ala kadarnya?

22. Bukanlah berusaha memunculkan apa yang Kita inginkan melainkan berusaha mengetahui yang terjadi sebagaimana adanya.

23. Pikiran / lamunan bukanlah suatu gangguan. Bukan berusaha untuk menghilangkan pikiran, tetapi berusahalah untuk mengetahui kemunculan pikiran ini.

24. Bukanlah menolak objek yang muncul, melainkan singkirkanlah kilesa (kekotoran batin) yang muncul yang datang menyusul setelah kemunculan objek, dengan cara mengetahui/menyadari dan mengamati kilesa tersebut.

25. Dengan adanya saddha (keyakinan), barulah akan ada viriya (semangat).
Dengan adanya viriya, barulah akan ada ‘sati’ yang berkesinambungan.
Dengan adanya ‘sati’ yang berkesinambungan barulah akan terwujud
konsentrasi (samadhi).
Dengan terwujudnya ‘samadhi’ barulah akan mengetahui sebagaimana adanya.
Dengan mengetahui sebagaimana adanya maka ‘saddha’ akan semakin kokoh.

26. Seyogianyalah hanya memperhatikan apa yang sesungguhnya terjadi ‘saat ini’.
Janganlah kembali ke ‘masa lalu’…!!!
Pun jangan merencanakan masa depan…!!!!

27. Objek tidaklah penting. Yang lebih penting adalah batin yang bekerja di latar belakangnya, yang melakukan pekerjaan pengamatan/pengawasan. Hanya jika batin yang mengamati memiliki sikap mental yang betul barulah akan memperoleh objek yang benar.

Reff from :
“Penilikan Batin” Wejangan Shwe U Min Sayadaw, U Tejaniya Sayadaw, dan
U jotika Sayadaw.
Penerjemah ( Myanmar- Inggris ) : Moushumi Gosh, Laura Zan, Daw Khin Mya Mya
Penerjemah ( Inggris – Indonesia ) : Bhikkhu Thitayannyo
Diterbitkan oleh Vihara Palmerah

Sukhi hotu… Semoga bermanfaat………
Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia……..

.

Sumber CoPas: milist SP

APA KATA PARA GURU MEDITASI ?

APA KATA PARA GURU MEDITASI ?

Oleh: Ven. Visuddhacara
Diterjemahkan oleh Hudoyo Hupodio

Pada umumnya para guru meditasi Buddhis yang terkenal dan berpengalaman
sepakat bahwa jhana tidak diperlukan atau tidak merupakan syarat  pendahulu bagi meditasi vipassana. Misalnya, dalam buku “Living Buddhist Masters” (dulu diterbitkan oleh Buddhist Publication Society, Sri Lanka, dan sesudah itu dengan judul baru, “Living Dharma”, diterbitkan oleh penerbit Shambala) karya Jack Kornfield, dari ke-12 guru yang ditampilkan di sana, semuanya menyatakan dengan jelas atau mengisyaratkan bahwa orang dapat melakukan vipassana tanpa memupuk jhana sedikit pun.

Beberapa di antara mereka mengajarkan vipassana dengan bertumpu pada khanika-samadhi atau ‘konsentrasi-mendekat’ (upacara-samadhi). Yang lain mengajarkan baik samatha (ketenangan), jhana (absorpsi) dan vipassana, tetapi menekankan bahwa orang tidak perlu jhana untuk melakukan vipassana. Para pemeditasi dapat pindah ke vipassana setelah mencapai tingkat konsentrasi yang cukup untuk mengatasi kelima ‘rintangan batin’. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari
mereka memperingatkan agar orang tidak melekat atau berhenti di dalam jhana dan menekankan perlunya melakukan vipassana.

Beberapa di antara guru meditasi ini telah menjadi bhikkhu sejak masa remaja mereka dan bukan hanya mahir di dalam meditasi tetapi juga di dalam pengetahuan kitab suci. Mereka telah mempelajari Tipitaka, Kitab-kitab Komentar dan Kitab-kitab Subkomentar dalam bahasa aslinya, Pali, dan dengan demikian berbicara berdasarkan otoritas dari kitab suci maupun praktik dan pengalaman pribadi. Beberapa dari mereka telah berlatih di hutan-hutan selama bertahun-tahun dan menguasai baik samatha maupun vipassana.
AJAHN CHAH
Guru meditasi terkenal, Ajahn Chah, ditanya pada suatu sesi Tanya-Jawab:
“Apakah perlu untuk mampu masuk ke dalam absorpsi [jhana] dalam latihan kita?”

Jawab Guru: “Tidak, absorpsi(1) tidak diperlukan. Anda perlu mencapai suatu tingkat ketenangan dan pemusatan batin yang sekadar cukup. Lalu gunakan itu untuk mengamati diri sendiri. Tidak diperlukan sesuatu yang istimewa. Jika absorpsi muncul dalam latihan Anda, itu juga baik. Tapi jangan melekat kepadanya. Beberapa orang asyik dengan absorpsi. Itu bisa menjadi permainan yang amat menyenangkan. Anda harus tahu batas-batas yang semestinya. Jika Anda arif, Anda akan tahu kegunaan dan keterbatasan absorpsi, seperti Anda tahu keterbatasan anak kecil dibandingkan orang dewasa.”

Ajahn Chah, yang terkenal di kalangan pemeditasi vipassana di Timur maupun Barat, berbicara terutama berdasarkan otoritas pengalaman beliau; beliau telah menjadi bhikkhu sejak usia remaja dan pernah bermeditasi bertahun-tahun di hutan-hutan Thailand. Pada dewasa ini terdapat lebih dari 100 vihara yang merupakan cabang dari vihara pusat Ajahn Chah, Wat Nong Pah Pong, di Thailand. Sebagai tambahan, para murid beliau juga mendirikan pusat-pusat meditasi di berbagai bagian dunia.

AJAHN DHAMMADARO
Seorang guru meditasi Thai, yang pernah berlatih dalam beberapa teknik
meditasi, tetapi lebih menyukai vipassana langsung berdasarkan ‘konsentrasi saat-demi-saat’ (khanika-samadhi) adalah Ajahn Dhammadaro.

Beliau pernah ditanya: “Sang Buddha bicara tentang perlunya mengembangkan perhatian-penuh (mindfulness) dan konsentrasi. Dapatkah Anda bicara lebih dalam tentang konsentrasi?”

Jawaban beliau: “Ada tiga jenis konsentrasi yang dikembangkan dalam
meditasi. Dua di antaranya dikembangkan di jalan absorpsi (jhana), yakni:
‘konsentrasi-mendekat’ (upacara-samadhi) dan ‘konsentrasi-penuh’
(appana-samadhi, jhana). Keduanya dicapai dengan memusatkan perhatian pada satu obyek meditasi. Termasuk meditasi jenis itu ialah visualisasi dari wujud-wujud atau warna-warna tertentu, atau memusatkan perhatian pada perasaan tertentu, seperti cinta kasih (metta). Bila ‘konsentrasi-mendekat’ dan ‘konsentrasi-penuh’ (jhana) sudah tercapai, muncullah kenikmatan dan ketenangan; pemeditasi terserap sepenuhnya dalam obyek meditasinya, dan tiada ‘rintangan batin’ dapat mengganggunya. Penghentian kotoran batin yang bersifat sementara ini hanya berlangsung selama pemeditasi memusatkan perhatian pada obyek meditasinya. Begitu batin meninggalkan keterserapannya di dalam obyek, maka kenikmatan pun lenyap dan batin dirongrong lagi oleh arus kotoran batin. Sebagai tambahan, ada bahaya dari konsentrasi yang memusat ini. Oleh karena tidak menghasilkan kearifan, keadaan itu dapat membawa pada kelekatan terhadap kenikmatan batin atau bahkan penyalahgunaan kekuatan-kekuatan konsentrasi, dan dengan demikian malah menambah kotoran batin.

“Jenis konsentrasi ketiga di dalam Jalan Suci Berunsur Delapan dinamakan ‘konsentrasi benar’ atau ‘konsentrasi sempurna’. Konsentrasi ini dikembangkan atas dasar saat-demi-saat dalam meditasi pencerahan
(vipassana). Hanya konsentrasi saat-demi-saat mengikuti jalan
perhatian-penuhlah yang dapat menuntun pada musnahnya kotoran batin.
Konsentrasi ini tidak dikembangkan dengan memusatkan batin pada satu obyek tanpa-bergerak, melainkan dengan sadar sepenuhnya terhadap sensasi tubuh, perasaan, kesadaran dan bentuk-bentuk batin. Bila telah berkembang semestinya di dalam tubuh dan batin, konsentrasi saat-demi-saat membawa pada berakhirnya kelahiran yang berulang-ulang. Melalui konsentrasi ini, kita mengembangkan kemampuan melihat jelas kelima kelompok yakni tubuh, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk batin dan kesadaran, yang membentuk apa yang secara konvensional disebut ‘manusia’.”

Terhadap pertanyaan lain, “Maukah Bhante menjelaskan lebih lanjut
bagaimana mengembangkan konsentrasi saat-demi-saat?”, Ajahn Dhammadaro
menjawab: “Ada dua poin penting yang perlu dikemukakan. Pertama, pencerahan perlu dikembangkan melalui perasaan (vedana) yang timbul melalui kontak pada setiap pintu indra. Kelompok ‘tubuh’ adalah dasar untuk mengembangkan konsentrasi saat-demi-saat yang menghasilkan kearifan. Oleh karena itu, kita harus sadar sepenuhnya akan sensasi atau perasaan yang muncul dari kontak pada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh/kulit dan batin/ingatan sebagai landasannya.

“Poin kedua yang penting adalah bahwa kontinuitas adalah rahasia
keberhasilan dalam meditasi. Pemeditasi harus berupaya untuk tetap sadar siang dan malam, setiap saat, dan dengan demikian dengan cepat
mengembangkan konsentrasi dan kearifan. Sang Buddha sendiri menyatakan
bahwa jika pemeditasi benar-benar sadar dari saat ke saat selama tujuh
hari, ia akan mencapai pencerahan penuh. Oleh karena itu, esensi meditasi pencerahan adalah perhatian-penuh saat-demi-saat terus-menerus
terhadap sensasi yang muncul dari kontak pada keenam landasan indra.”

Tekanan dan metode Ajahn Dhammadaro mirip dengan Mahasi Sayadaw; keduanya menekankan perhatian-penuh saat-demi-saat, siang malam, selama retret untuk memperoleh hasil terbaik. Sesungguhnya semua guru meditasi pada umumnya menekankan untuk mempertahankan perhatian-penuh terus-menerus, kecuali beberapa di antara mereka tidak memiliki jadwal meditasi yang intensif, melainkan meminta pemeditasi untuk mengerjakan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari yang normal disertai perhatian-penuh, seperti menyapu, menimba air dan membelah kayu. Mereka juga membolehkan membaca, belajar dan bercakap-cakap sedikit.
AJAHN JUMNIEN
Seorang guru meditasi Thai lain, Ajahn Jumnien, yang berpandangan bahwa
orang jangan melekat pada satu metode saja, melainkan mengakui validitas dari semua metode, entah samatha entah vipassana murni, sangat melegakan dan merupakan peringatan yang baik agar kita memiliki pandangan yang luas. Ajahn Jumnien tentu tahu, oleh karena beliau sendiri telah memraktikkan baik teknik samatha maupun vipassana. Beliau berkata, “Saya mujur. Saya menguasai praktik dari banyak guru meditasi sebelum saya mulai mengajar. Ada banyak praktik yang baik. Yang penting ialah bahwa Anda menekuni praktik Anda sendiri dengan yakin dan penuh energi. Kelak Anda akan tahu sendiri hasilnya.”

Ketika ditanya, jenis meditasi apakah yang diajarkannya di pusat
meditasinya di Thailand selatan, Ajahn Jumnien menjawab: “Di sini Anda akan menjumpai orang berlatih banyak teknik meditasi. Sang Buddha menguraikan lebih dari empat puluh jenis meditasi bagi para siswa beliau. Tidak semua orang mempunyai latar belakang yang sama, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama. Saya tidak mengajarkan hanya satu jenis meditasi saja, melainkan banyak jenis, dengan memilih jenis yang cocok bagi setiap siswa. Di sini ada yang melatih meditasi pernapasan. Yang lain bermeditasi dengan mengamati sensasi pada tubuh. Ada yang bermeditasi pada cinta kasih. Bagi orang lain yang datang, saya mengajarkan permulaan latihan pencerahan (vipassana); dan untuk orang lain saya mengajarkan metode konsentrasi yang kelak akan membawa mereka pada latihan pencerahan (vipassana) dan kearifan yang lebih tinggi.”

Namun, tampaknya Ajahn Jumnien lebih menyukai metode vipassana langsung, yakni langsung mulai dengan vipassana tanpa mengembangkan samatha-jhana. Beliau adalah murid Ajahn Dhammadaro, yang menyukai ‘khanika-samadhi’ (konsentrasi saat-demi-saat), yakni konsentrasi yang perlu dikembangkan oleh setiap pemeditasi vipassana langsung. Ketika ditanya: “Apakah biasanya Bhante mulai membimbing siswa Bhante langsung dengan meditasi vipassana atau dengan praktik konsentrasi?”, Ajahn Jumnien menjawab: “Paling sering mereka mulai dengan praktik vipassana. Namun, kadang-kadang saya mengajarkan praktik konsentrasi (jhana) dulu, terutama jika mereka pernah mempunyai pengalaman meditasi sebelumnya, atau jika batin mereka cenderung dengan mudah mencapai konsentrasi. Yang paling penting akhirnya semua orang harus kembali ke praktik vipassana.”

AJAHN BUDDHADASA
Ajahn Buddhadasa yang terkenal dari vihara Suan Mokh di Thailand selatan juga membolehkan orang untuk memintasi jhana dan melatih vipassana setelah mencapai tingkat konsentrasi yang cukup untuk mengatasi kelima ‘rintangan batin’. Ajahn Buddhadasa mengajarkan ‘anapanasati’ (meditasi pernapasan)dan menjelaskan ke-16 langkah yang dibutuhkan untuk mengembangkan jhana dan vipassana. Tetapi beliau juga membolehkan orang untuk memintasi jhana dan melatih dua saja dari ke-16 langkah itu. Dalam buku beliau, “Anapanasati — Perhatian Penuh dengan Pernapasan” halaman 116, Ajahn Buddhadasa berkata: “Jika ada orang merasa bahwa keenam belas langkah ini terlalu banyak, itu boleh-boleh saja. Ke-16 langkah itu bisa diringkas menjadi dua langkah saja. Pertama — latihlah citta (batin) untuk berkonsentrasi secara memadai
dan semestinya. Kedua — dengan samadhi itu pindahlah untuk langsung
mengamati ketidakkekalan (aniccam), keadaan tak-memuaskan (dukkham) dan
tanpa-aku (anatta). Dua langkah ini saja, jika dilakukan bersama setiap
tarikan dan hembusan napas, dapat dianggap sebagai anapanasati juga. Jika Anda tidak suka akan latihan 16 langkah itu, atau menganggap bahwa itu terlalu teoretis,atau terlalu banyak untuk dipelajari, atau terlalu
mendetail, ambillah saja dua langkah ini. Pusatkan batin dengan
berkonsentrasi pada pernapasan. Bila Anda merasa samadhi (konsentrasi)
sudah cukup kuat, selidikilah segala sesuatu yang Anda ketahui dan alami, sehingga Anda sadar betapa semua itu tidak kekal, betapa semua itu tidak memuaskan, dan betapa semua itu tanpa-ruh; ini saja sudah cukup untuk mencapai hasil yang diinginkan, yakni tinggalkan! lepaskan! jangan melekat! Akhirnya, perhatikan berakhirnya kilesa (kotoran batin) dan berakhirnya kelekatan bila aniccam-dukkham-anatta terlihat sepenuhnya. Demikianlah, Anda dapat mengambil jalan pintas ini jika mau.”

Di bagian lain dari buku beliau (hal. 124), di mana beliau lagi-lagi
memberi pilihan kepada para pemeditasi untuk memintasi pengembangan jhana, beliau berkata: “Kita akan mulai berbicara bagi mereka yang tidak suka ‘banyak’. Dengan istilah ‘banyak’ tampaknya mereka maksudkan terlalu banyak atau surplus. Nah, surplus itu tidak perlu. Kita akan mengambil hanya yang cukup saja bagi orang kebanyakan, yang kita namakan ‘metode jalan pintas’. Intisari dari metode ini ialah memusatkan batin secara memadai, cukup sampai di situ saja, yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Lalu gunakan batin yang sudah memusat itu untuk mengamati aniccam-dukkham-anatta, ketiga sifat eksistensi, sampai tercapai ‘su~n~nata’ (kekosongan) dan ‘tathata’ (hakikat yang ada). Dengan latihan ini mereka akan memperoleh manfaat samadhi juga. Mereka akan memperoleh hasil lenyapnya dukkha yang sepenuhnya sama, tetapi tidak ada sifat-sifat istimewa lain sebagai tambahan dari itu.
Kemampuan-kemampuan istimewa seperti itu juga tidak dibutuhkan. Jadi
buatlah batin terpusat secara cukup, lalu selidiki ‘aniccam-dukkham-anatta’. Latihlah saja kelompok-empat pertama dari Anapanasati secara cukup, lalu kelompok-empat keempat secara cukup. [Ke-16 langkah dalam Anapanasati-sutta dikelompokkan menjadi empat kelompok-empat (tetrad)./hudoyo] Itu saja! Cukup dan tidak banyak, juga tidak lengkap,
tetapi sudah cukup bagus. Inilah jalan pintas bagai orang biasa.”

Ajahn Buddhadasa sendiri telah menyatakan dengan sangat jelas. Suatu taraf konsentrasi yang cukup saja yang diperlukan, dan jhana sama sekali tidak dibutuhkan.
AJAHN NAEB
Guru meditasi perempuan Thai, Ajahn Naeb, juga mengajarkan metode vipassana langsung, menekankan perhatian-penuh dalam keempat posisi tubuh: duduk, berdiri, berjalan dan berbaring, serta pada setiap kegiatan sehari-hari, siang malam. Perlu adanya pengamatan tajam terhadap semua proses batin dan jasmani. Tidak diperlukan meditasi samatha (ketenangan, konsentrasi) khusus, oleh karena konsentrasi akan berkembang mencapai tingkat yang kuat dan diperlukan sementara orang melatlih vipassana langsung dengan mengamati semua proses batin dan jasmani tanpa jeda sepanjang siang dan malam.

KHANIKA SAMADHI: KONSENTRASI SAAT-DEMI-SAAT
Di sini ada baiknya untuk kita bahas jenis konsentrasi apa yang
dikembangkan oleh seorang pemeditasi Vipassana murni. Pemeditasi Vipassana menggunakan KHANIKA-SAMADHI (konsentrasi saat-demi-saat) yang tercapai dengan mengamati obyek-obyek vipassana, yakni mengamati berbagai fenomena mental dan fisik yang terjadi di dalam batin dan tubuh. Disebut ‘khanika’ (saat-demi-saat) oleh karena hanya terjadi pada saat pengamatan, dan dalam hal vipassana, bukan pada satu obyek seperti dalam meditasi samatha-jhana, melainkan pada obyek-obyek atau fenomena yang selalu berubah yang terjadi dalam batin dan tubuh. Tetapi ketika pemeditasi vipassana mengembangkan kekuatan dan ketrampilan dalam mengamati, konsentrasi ‘khanika’-nya berlangsung tanpa terputus dalam rangkaian tanpa-jeda. Konsentrasi ini, bila terjadi dari saat ke saat tanpa jeda, menjadi begitu kuat sehingga dapat mengalahkan kelima ‘rintangan batin’, dan dengan demikian menghasilkan penyucian batin (citta visuddhi), yang memungkinkan pemeditasi mencapai semua pencerahan vipassana (vipassana-~nyana) sampai ke tingkat arahat. Pemeditasi vipassana murni dapat memahami dan menghargai kekuatan khanika-samadhi. Ketika pengamatannya menjadi lancar, mereka bisa melihat sendiri betapa pengamatan berjalan sendiri tanpa terputus tanpa jeda. Pengamatan itu tampak berjalan dengan tenaganya sendiri tanpa pemeditasi mengerahkan upaya yang disengaja atau yang terpusat. Maka tidak langka bagi pemeditasi untuk duduk satu jam, atau bahkan beberapa jam, terserap dalam pengamatan. Dalam pengamatan yang baik, terutama dalam pencerahan tentang keseimbangan (sankhara-upekkha-~nana), batin diam pada obyek-obyeknya dan tidak mau menyimpang. Bahkan jika kita menghendaki batin menyeleweng, ia menolak pergi dan tetap tinggal bersama obyek vipassana yang tengah diamatinya. Ada kasus-kasus di mana pemeditasi mampu duduk selama enam atau tujuh jam terus-menerus, atau lebih lama lagi. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa ada kekuatan tertentu dalam ‘khanika-samadhi’; jika tidak, bagaimana mungkin pemeditasi bisa duduk dengan konsentrasi kuat untuk waktu begitu lama.

Demikianlah, para pemeditasi atau calon-pemeditasi hendaknya tidak
menganggap ‘khanika-samadhi’ sebagai lemah dan tidak efektif. Memang, ia lemah sebelum berkembang, tetapi bila telah lancar, ia menjadi begitu kuat sehingga mampu mengatasi ‘rintangan batin’. Bahkan, dalam menekankan kekuatan potensial dari ‘khanika-samadhi’, kitab Paramattha-manjusa, Subkomentar terhadap Visuddhi-magga, menyatakan bahwa konsentrasi saat-demi-saat, bila berlangsung tanpa terputus pada obyeknya, “memancangkan batin tanpa bergerak seolah-olah seperti dalam jhana.”(2)Mengatasi kelima ‘rintangan batin’ adalah semua yang dibutuhkan untuk mengembangkan meditasi vipassana. Bila kelima ‘rintangan batin’ telah diatasi, terjadilah penyucian-batin (citta-visuddhi). Dengan penyucian-batin ini, orang dapat berlatih dan memperoleh seluruh pencerahan vipassana (vipassana-~nana) sampai ke tingkat arahat., sebagaimana ditunjukkan dalam Rathavinita-sutta dari Majjhima Nikaya.

Orang dapat memilih melakukan vipassana melalui tiga jenis konsentrasi:
(1) khanika-samadhi (konsentrasi saat-demi-saat);
(2) upacara-samadhi (konsentrasi mendekat);
(3) appana-samadhi atau jhana (konsentrasi penuh).

Pejalan jhana menggunakan jhana dengan mula-mula mencapai jhana dan
kemudian keluar lagi dari jhana untuk melakukan vipassana dengan berkontemplasi pada faktor-faktor mental jhana atau keadaan batin atau
proses fisik apa pun yang terjadi dalam batin dan jasmani.

Upacara-samadhi adalah konsentrasi-mendekat atau konsentrasi-akses. Itu
adalah konsentrasi yang tercapai ketika orang mengamati obyek samatha
(ketenangan) yang tetap untuk mencapai jhana. Jadi, itu adalah konsentrasi yang mendahului tercapainya jhana. Namun, pemeditasi yang menggunakan konsentrasi-akses untuk melakukan vipassana, tidak perlu menunggu untuk mengembangkan atau mencapai jhana. Tanpa mencapai jhana ia mulai berkontemplasi pada obyek-obyek vipassana setelah ia mencapai tingkat konsentrasi-akses.

Khanika-samadhi (konsentrasi saat-demi-saat) digunakan oleh pemeditasi
vipassana murni; konsentrasi ini, bila telah berkembang, sama kuatnya
dengan upacara-samadhi (konsentrasi-akses). Tetapi secara teknis tidak
dinamakan ‘konsentrasi-akses’ karena konsentrasi-akses menggunakan obyek samatha yang tetap sebagai dasar untuk pencapaian jhana. Di pihak lain, konsentrasi-khanika dari pemeditasi vipassana murni memakai obyek-obyek vipassana yang tidak dimaksudkan untuk mencapai jhana. Itulah sebabnya ada perbedaan istilah. Namun, di dalam kitab-kitab Komentar, konsentrasi-khanika dari pemeditasi vipassana kadang-kadang juga disebut konsentrasi-akses. Dalam hal itu, istilah itu adalah istilah “terapan”, artinya itu adalah konsentrasi-akses “nominal”, dan bukan konsentrasi-akses sesungguhnya, oleh karena secara teknis konsentrasi-akses menggunakan obyek samatha yang tetap.(3) Kami menjelaskan topik konsentrasi saat-demi-saat secara mendetail di sini bagi para pemeditasi yang cenderung berpikir dari sisi kesarjanaan. Pada umumnya, kebanyakan pemeditasi tidak mau pusing dengan uraian yang begitu mendetail.

VEN. SRI ~NANARAMA MAHATHERA
Penjelasan yang kami berikan di atas sejalan dengan penjelasan para guru meditasi seperti Mahasi Sayadaw dari Myanmar dan Ven. Matara Sri ~Nanarama Mahathera dari Sri Lanka. Para bhikkhu itu memiliki baik pengalaman praktik maupun kesarjanaan yang kuat. Misalnya, Ven. ~Nanarama, adalah kepala Mitirigala Nissara Vanaya, sebuah vihara meditasi yang ketat di Sri Lanka. Beliau mahir dalam bahasa Pali dan Sanskrit. Sejak tahun 1951, beliau telah menjadi upajjhaya (penahbis) dan guru dari Sri Kalyani Yogashramiya Samstha, sebuah organisasi guru meditasi yang didirikan oleh Ven. K. Sri Jinavamsa Mahathera. Organisasi ini mempunyai lebih dari lima puluh cabang pusat meditasi di Sri Lanka.

Ven. ~Nanarama Mahathera mengajarkan bukan hanya vipassana murni tetapi
juga meditasi samatha (ketenangan). Dalam bukunya, “Tujuh Tahap Penyucian dan Pencerahan Vipassana” yang diterbitkan oleh Buddhist Publication Society di Sri Lanka, Ven. ~Nanarama menjelaskan baik metode samatha maupun metode vipassana murni, sesuai dengan pengalaman beliau pribadi dan sejalan dengan kitab suci Pali dan kitab-kitab Komentar. Di dalam menjelaskan ketiga jenis konsentrasi, beliau menyatakan:

“Ada tiga jenis konsentrasi yang memenuhi syarat sebagai Penyucian Batin:
(1) konsentrasi-akses (upacara-samadhi); (2) konsentrasi-penuh atau
konsentrasi-absorpsi (appana-samadhi atau jhana); dan konsentrasi
saat-demi-saat (khanika-samadhi). Dua konsentrasi yang pertama tercapai
melalui jalan ketenangan (samatha), sedangkan konsentrasi terakhir tercapai melalui jalan pencerahan (vipassana). Konsentrasi saat-demi-saat mempunyai kekuatan yang sama untuk pemusatan batin seperti konsentrasi-akses. Oleh karena … menekan kelima ‘rintangan batin’, konsentrasi itu membantu pencapaian pencerahan-vipassana. Namun, oleh karena tidak dimaksudkan sebagai landasan bagi jhana, konsentrasi itu tidak disebut konsentrasi-akses.”

(Di Sri Lanka, sekitar 40 tahun lalu, ada tiga bhikkhu mengritik metode
vipassana murni yang diajarkan oleh Mahasi Sayadaw. Setelah itu, salah satu dari mereka, dalam sebuah artikel dalam majalah World Buddhism pada tahun 1966, lagi-lagi mengritik metode itu dan menyatakan bahwa jhana diperlukan untuk vipassana. Sayadaw U Nyanuttara dari Myanmar menulis serangkaian jawaban, di mana dijelaskan kedudukan konsentrasi saat-demi-saat (khanika) dan dijelaskan mengapa jhana tidak diperlukan berdasarkan bukti-bukti kitab suci dan kitab komentar. Belakangan, Organisasi Mahasi menerbitkan baik kritik dan jawaban itu dalam sebuah buku yang dapat dibaca oleh generasi mendatang.)

Catatan kaki:

(1) ‘Absorpsi’ di sini mengacu pada jhana.

(2) Lihat catatan kaki dalam buku Ven. ~Nanamoli, “Path of Purification
(Visuddhi-magga)”, hal. 311.

(3) Perbedaan istilah yang “halus” ini telah dijelaskan oleh Sayadaw U
~Nyanuttara dalam buku beliau, “Satipattana-Vipasssana Meditation:
Criticism and Replies”.

Ven. Visuddhacara adalah seorang bhikkhu Buddhis Malaysia. Pada saat ini beliau tinggal di Penang. Buku-buku beliau yang sudah terbit termasuk “Curbing Anger Spreading Love”, “Drinking Tea Living Life”, dan “Love and Dying”.
KOMENTAR:
Di kalangan guru meditasi vipassana pada dewasa ini terdapat dua aliran
tentang perlu-tidaknya jhana (sekurang-kurangnya jhana pertama) dicapai
lebih dulu sebelum orang melakukan vipassana untuk mencapai pembebasan:

(1) Yang mengatakan bahwa jhana tidak diperlukan untuk pembebasan termasuk Mahasi Sayadaw, Ajahn Chah, Buddhadasa Mahathera, dan guru-guru lain yang ditampilkan dalam artikel di atas. Juga SN Goenka termasuk aliran ini.

(2) Yang mengatakan bahwa jhana mutlak diperlukan untuk pembebasan termasuk Henepola Gunaratana, Brahmavamso dan Thanissaro.

Pada umumnya, aliran #1 berpegang pada tradisi vipassana Theravada yang
dipaparkan secara rinci di dalam kitab Visuddhi-magga (yang ditulis pada abad 5 M dan tidak termasuk dalam Kanon Pali). Namun mereka pun dapat menunjukkan sutta-sutta tertentu di dalam Sutta Pitaka di mana jhana tidak disebut-sebut dalam proses perjalanan mencapai pembebasan.

Di lain pihak, aliran #2 berpegang pada banyak sutta di dalam Sutta Pitaka yang menampilkan jhana sebagai ‘pencapaian antara’ di dalam jalan menuju pembebasan. Aliran ini mau tidak mau harus mengesampingkan otoritas Visuddhi-magga, karena kitab itu secara eksplisit menyatakan bahwa jhana tidak diperlukan, sekalipun tidak salah pula untuk dicapai.

Di dalam kontroversi ini kiranya tidak ada gunanya mempermasalahkan mana yang benar di antara kedua pendapat itu. Soalnya setiap pemeditasi pasti memperoleh hasil sesuai dengan jalan yang dilaluinya, sehingga siapa pun tidak mungkin dapat mengklaim bahwa jalan orang lain salah.

Di dalam Sutta Pitaka sendiri ada beberapa petunjuk bahwa kontroversi ini sudah ada sejak zaman Sang Buddha sendiri. Antara lain adanya dua istilah yang setara, yakni ‘ceto-vimutti’ (pembebasan melalui batin/jhana) dan ‘pa~n~na-vimutti’ (pembebasan melalui kearifan/vipassana), yang banyak ditemukan dalam berbagai sutta.

Dalam salah satu sutta, Sang Buddha pernah ditanya oleh para bhikkhu,
mengapa sampai ada kedua istilah itu? Beliau menjawab, “Itu disebabkan
adanya perbedaan dalam kemampuan batin manusia.” (Saya menafsirkan jawaban Sang Buddha itu mengacu pada adanya pemeditasi yang mampu dengan mudah mencapai jhana dan ada yang tidak, tapi beliau tidak menyatakan bahwa hanya satu jalan saja yang benar.)

Analisis yang pernah saya lakukan terhadap Culasaropama-sutta juga
mengisyaratkan adanya persaingan antara kedua aliran meditasi ini di dalam sutta itu.

Kalau kita mempelajari sutta-sutta yang berisi uraian Sang Buddha tentang jalan pembebasan, ternyata beliau tidak mengajarkan satu jalan yang baku dan seragam.

Di satu sutta beliau mengajarkan bahwa pembebasan tercapai melalui keadaan ‘sa~n~na-vedayita-nirodha” (berhentinya pencerapan dan perasaan), yang adalah lebih tinggi daripada jhana kedelapan.

Di sutta lain, beliau mengajarkan bahwa pembebasan tercapai melalui
kesaktian keenam, yang disebut “asava-kkhaya-abhi~n~na” (kesaktian tentang berakhirnya arus kotoran batin), yang dikembangkan setelah pemeditasi mencapai jhana keempat.

Di sutta lain lagi, beliau mengajarkan bahwa pembebasan tercapai melalui vipassana setelah pemeditasi mencapai jhana pertama lebih dulu.

Di sutta lain lain, beliau mengajarkan bahwa pembebasan tercapai melalui vipassana murni tanpa menyebut-nyebut jhana.

Demikianlah, tampaknya Sang Buddha mengajarkan berbagai jalan meditasi bagi berbagai bhikkhu/orang yang berbeda kecenderungan dan kemampuan batinnya.

Jadi, sekali lagi, tidak ada gunanya mempertentangkan berbagai jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha itu satu sama lain. Biarlah setiap orang menempuh jalan yang sesuai dengan pemahaman dan kemampuan masing-masing.

Sayadaw U Tejaniya : Sikap yang Tepat (yoniso manasikara)
Terjemahan by Markos Prawira – 21 November 2011

 
Menjadi santai dan sadar adalah penting tetapi juga sangat penting untuk
memiliki sikap yang tepat, kerangka berpikir yang benar.

Apa artinya memiliki sikap yang benar? Memiliki sikap yang benar adalah
cara untuk melihat hal-hal yang membuat Anda berisi, nyaman, dan merasa
nyaman dengan apapun yang Anda alami. Ide yg salah, informasi yang salah,
atau ketidaktahuan dari kekotoran batin akan mempengaruhi sikap Anda.

Kita semua memiliki sikap yang salah, kita tidak dapat menghindari memiliki
mereka. Jadi jangan mencoba untuk memiliki sikap yang benar, cobalah
terlebih dahulu untuk mengenali jika Anda memiliki sikap yang salah atau
benar. Hal ini penting untuk menyadari ketika Anda memiliki sikap yang
benar, tetapi bahkan lebih penting untuk mengidentifikasi dan menyelidiki
sikap yang salah Anda. Cobalah untuk memahami sikap Anda itu salah; tahu
bagaimana mereka mempengaruhi praktek Anda, dan melihat bagaimana mereka
membuat Anda merasakan. Jadi perhatikanlah diri sendiri dan selalu periksa
keadaan pikiran yang Anda sedang latih.

**Sikap yang benar memungkinkan Anda untuk menerima, mengenali dan
mengamati segala sesuatu yang terjadi – apakah menyenangkan atau tidak
menyenangkan – dengan cara yang santai dan waspada. Anda harus menerima dan
menyaksikan semua pengalaman baik dan buruk. Setiap pengalaman, apakah yang
baik atau buruk, memberikan kesempatan untuk memperhatikan apakah pikiran
menerima segala sesuatu sebagaimana adanya, atau jika suka, tidak suka,
bereaksi, atau menghakimi.

Menyukai sesuatu berarti Anda mengharapkannya, membenci sesuatu berarti
anda menolaknya. Mengharapkan dan menolak adalah noda/kekotoran yang
merupakan hasil dari ketidaktahuan – ketidaktahuan atau delusi adalah
noda/kekotoran juga. Jadi jangan mencoba untuk menciptakan sesuatu, mencoba
untuk membuat sesuatu adalah keserakahan. Jangan menolak apa yang terjadi,
penolakan terhadap apa yang terjadi adalah dosamula citta. Tidak tahu
sesuatu sedang terjadi atau telah berhenti terjadi adalah delusi.

**Anda tidak mencoba untuk membuat hal-hal sesuai apa yang anda ingin
mereka terjadi. Anda mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi seperti
apa adanya. Berpikir itu harus dilakukan dengan cara ini atau itu,
menginginkan ini atau itu terjadi atau tidak terjadi adalah harapan.
Harapan menciptakan kecemasan dan dapat menyebabkan kebencian. Adalah
penting bahwa Anda menyadari sikap Anda!

Adalah sikap yang salah untuk menilai praktek dan menjadi tidak puas dengan
cara itu akan. Ketidakpuasan apakah muncul dari pemikiran bahwa hal-hal
tidak sesuai apa yang kita harapkan mereka seharusnya menjadi, keinginan
bahwa mereka seharusnya berbeda, atau dari ketidaktahuan tentang praktek
yang benar. Sikap seperti ini menutup pikiran dan menghambat praktek.

Cobalah untuk mengenali ketidakpuasan, untuk sepenuhnya menerima itu, dan
menyaksikan dengan sangat waspada. Selama proses pengamatan dan eksplorasi
pengalaman, penyebabnya akan menjadi jelas.

Memahami penyebab ketidakpuasan melarutkan ketidakpuasan itu sendiri dan
akan membantu Anda untuk mengenali mereka jika mereka datang lagi. Anda
akan melihat dan semakin melihat betapa berbahayanya ketidakpuasan terhadap
pikiran dan fisik. Anda akan semakin menyadari perilaku penilaian Anda dan
secara bertahap melepaskan mereka. Dengan cara ini Anda sedang
mengembangkan ketrampilan dalam berhubungan dengan kekotoran batin

Sikap yang salah disebabkan oleh delusi. Kita semua memilikinya dalam
pikiran kita. Semua sikap yang salah adalah kekotoran batin kemelekatan dan
penolakan atau yang berhubungan, misalnya kegembiraan, kesedihan, atau
kekhawatiran.

Tidak menerima kekotoran hanya akan memperkuat mereka. Kekotoran menghambat
kemajuan Anda dalam meditasi dan mencegah Anda dari kehidupan Anda
sepenuhnya. Mereka juga mencegah Anda dari menemukan kedamaian sejati dan
kebebasan. Jangan meremehkan kekotoran batin, mereka akan menertawakan anda

Carilah kekotoran-kekotoran batin. Kenali mereka saat muncul dalam pikiran
Anda. Amati dan coba pahami mereka. Jangan melekat, menolak, atau
mengabaikan mereka, dan jangan mengidentifikasi mereka. Ketika Anda
berhenti untuk melekat atau mengidentifikasi kekotoran, kekuatan mereka
perlahan-lahan akan berkurang. Anda harus terus mengecek sikap apa yang ada
saat bermeditasi

Selalu ingat bahwa meditasi kesadaran adalah proses belajar dimana Anda
dapat mengetahui hubungan pikiran dan tubuh. Bersikap sewajarnya dan
sederhana, tidak perlu untuk memperlambat secara tidak alami. Anda hanya
ingin melihat segala sesuatu sebagaimana yang sebenarnya.

Tidak perlu berusaha untuk berkonsentrasi. Konsentrasi akan tumbuh secara
alami dengan praktek. Tujuan kami adalah untuk menjadi lebih dan lebih
sadar. Semakin perhatian anda lebih kontinyu, pikiran akan menjadi lebih
tajam dan lebih mudah menerima.

Jangan lupa: objek tidak benar-benar penting, pikiran yang mengamati di
latar belakanglah yang benar-benar penting. Jika mengamati pikiran sudah
selesai dengan sikap yang benar, semua objek adalah objek yang benar

Sudahkah anda mempunyai sikap yang benar?

source : http://sayadawutejaniya.org/teachings & milist SP.

1. Dari stasiun Kereta api Bogor, naik angkot 10 atau 02 (warna orange) turun di BTM (Bogor Trade Mall) atau terkadang ada orang Bogor bilang Robinson. Ongkosnya antara Rp.2000-3000,- tergantung moodsupir.
AngKot Kota Bogor
Trayek 10, Jurusan: Bantar Kemang -Merdeka
Rute:Bantar Kemang – Pajajaran – Terminal Baranangsiang – Ir. H Juanda– Kapt.Muslihat – Merdeka.
AngKot Kota Bogor
Trayek 02 , Jurusan: Sukasari – Bubulak.
Rute: Sukasari – Lawang Gintung – Batutulis – Pahlawan – Empang – Ramayana - Medeka – Veteran – Bubulak – Dr. Semeru – Pasar Mawar – M. Muslihat – Ir. H. Juanda – Ramayana – Suryakencana – Sukasari.
2. Di depan BTM, nyeberang ke BTM, sebelah kiri mal ada nama jalan “Empang” (jalan raya menurun). Cari angkot 03 (warna  Biru tulisan BCN,  jurusan Ramayana - Ciapus)  bilang ke Ciapus.
Angkot Kab, Bogor
Trayek 03. Jurusan: Ciapus – Ramayana.
Rute: Ciapus – Kota Batu – Cikaret – Empang – Bondongan – Gang Aut – Pasar Cumpok – Ramayana – Empang – Cikaret – Kota Batu – Ciapus.
AngKot Kota Bogor

Jangan naik angkot ini

Trayek 03, Jurusan : Bubulak – Baranang Siang Hati-hati !!! Di sini ada 2 angkot no.3 tapi beda jurusan (bukan ke arah Ciapus).
3. Dalam perjalanan angkot, ikuti jalan lurus, ada tikungnan patah ke kanan, di patahan situ ada kantor Telkom, cirinya ada tower antena GSM, lalu ngak lama kemudian ada jembatan, ('nah ini sudah mau sampai...) ngak lama kemudian perhatikan sisi kiri jalan nanti ada mesjid "At Taqwa" warna mesjidnya cat putih. 'nah turun di mesjid ini, lalu nyeberang nanti ada plang papan nama "Saung Paramita", masuk deh ke gang itu (lebar gangnya 2 mobil bisa masuk). Setelah masuk gang nanti di depan ada pintu pagar, nah itu tuh Saung Paramita. Kalau bingung, bilang ajah ke supir BCN mau turun di Saung Paramita atau bisa telepon ke Saung Paramita.
4. Dari sini jalan ke sisi kanan jalan tadi, dari situ masuk ke jalan itu 300meter, di sisi kanan ada tembok yg di atasnya ada teratai.
5. Data lokasi:
   Saung Paramita Ciapus.
   Kp. Buniaga, RT01/RK01, Sukaresmi, Taman Sari, Bogor. Telp 0251-8388271
   d/h: Jl. Suryakencana 282 (258) Bogor 16123 Telp 0251-8388271.

   Untuk alamat surat:
   Vihara Dhammacakkhu jl. Dhalia II No.17/22 RT.004/003 Pakuan Bogor
Gambar Peta Lokasi bisa gunakan Google Map http://maps.google.com
Masukkan (copy-paste) koordinat ini ke dalam Google Map :
-6.64778,106.756306
Sumber:
- forum, milist, teman2.
- Angkot Bogor :
   - http://kota-bogor.net/http://eengsu.wordpress.com/
- Peta Bogor:
  - http://maps.google.co.id/http://wikimapia.org/http://maps.ovi.com/
Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.